Plastik merupakan salah satu bahan yang sering digunakan, mulai dari penggunaan di industri hingga kebutuhan rumah tangga. Namun, plastik yang terbuat dari minyak bumi memiliki ketahanan yang sangat tinggi terhadap proses alami peruraian, sehingga menyebabkan penumpukan sampah yang besar.
Hal ini telah memicu meningkatnya kekhawatiran internasional terkait dampak lingkungan dari polusi plastik. Oleh karena itu, penelitian saat ini berfokus pada pencarian bahan alternatif seperti bioplastik yang menawarkan keberlanjutan, baik bagi lingkungan maupun dari segi biaya.
Singkong terbukti ramah lingkungan
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang melakukan penelitian mengenai bioplastik yang berbasis pati singkong, yang dianggap lebih ramah lingkungan, serta tersedia dalam jumlah besar di alam serta memiliki efisiensi biaya yang baik.
Para peneliti dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN, Rina Wahyuningsih menyatakan bahwa bioplastik merupakan bahan yang ramah lingkungan yang biasanya dibuat dari polimer alami, seperti pati, selulosa, kitosan serta protein dan lemak, yang semua berasal dari bahan yang dapat diperbarui.
"Bioplastik bisa terurai secara alami oleh mikroba, sehingga tidak menyisakan racun berbahaya di lingkungan karena bahan-bahannya yang alami," katanya, dilansir dari situs resmi.
Gelatin tetap dibutuhkan
Bioplastik mampu terurai di dalam tanah sebesar 60-90 persen dalam enam hari, berbeda dengan plastik biasa yang memerlukan puluhan tahun untuk terurai. Namun, bioplastik memiliki sifat mekanik dan ketahanan terhadap air yang kurang baik karena sifat hidrofilik dari pati yang mengganggu kestabilannya.
Gelatin dihasilkan dari kolagen yang telah terhidrolisis dan terdapat dalam jaringan ikat hewan, sehingga memiliki sifat hidrokoloid. Sifat-sifat ini memungkinkan gelatin membentuk lapisan tipis dan elastis, menjadikannya bahan yang cocok untuk membuat bioplastik.
Pemanfaatan cangkang telur
Saat ini, berbagai macam jenis gelatin digunakan sebagaiplasticizerdalam bioplastik yang mempengaruhi sifat fisika dan mekaniknya. Menurut Rina, di Indonesia, khususnya membran cangkang telur ayam petelur (INCES) masih banyak tersedia dan belum dimanfaatkan sebagai bahan baku gelatin untuk produksi bioplastik. INCES mengandung 31 persen kolagen dan memiliki potensi besar sebagai sumber gelatin.
Penambahan gelatin yang berasal dari membran cangkang telur ayam kampung menjadi salah satu temuan penting dalam penelitian ini serta metode inovatif untuk meningkatkan sifat fisik bioplastik berbasis pati singkong. Bioplastik yang ditambahkan dengan 2 persen dan 4 persen gelatin menunjukkan kekuatan patah yang rendah, kelarutan air yang tinggi, dan mampu terurai di tanah dalam lima hari. Dibandingkan dengan sampel lainnya, bioplastik ini memiliki sifat fisik yang belum optimal.
4 Hewan yang Mampu Mengganti Kulit atau Cangkang Secara Alami Apakah aman mengonsumsi telur yang cangkangnya retak?Selanjutnya, penelitian sebaiknya mengkaji tambahan bahan lain seperti kitosan, agar, dan selulosa untuk meningkatkan sifat mekaniknya. Bioplastik yang memiliki sifat mekanik yang teruji, tetapi mampu terurai dengan baik diharapkan dapat mendukung teknologisustainable food packaging,” pungkas Rina.

Comments
Post a Comment