Pernahkah kamu membayangkan betapa ajaibnya burung pelatuk yang terus-menerus mematuk pohon tanpa mengalami gegar otak sama sekali? Burung ini melakukan aktivitas tersebut untuk mencari makanan berupa serangga.
Ia juga mampu mematuk hingga 12.000 kali dalam sehari, dengan kecepatan kepala mencapai 24 km/jam. Namun bagaimana hal ini bisa terjadi? Mengapa burung pelatuk tidak mengalami cedera otak setelah sekali mematuk? Artikel ini akan membahas secara lebih mendalam mengenai anatomi burung pelatuk dan alasan mengapa burung tersebut tidak mengalami gegar otak meskipun sering mematuk kayu.
1. Tulang hyoid pada burung pahat
Burung golok merupakan anggota dari keluarga Picidae. Jenis burung ini dapat ditemukan di berbagai wilayah dunia kecuali Australia, Papua Nugini, Selandia Baru, Madagaskar, serta daerah kutub.
Berdasarkan namanya, burung pelatuk sangat terkenal karena kemampuannya menggigit batang atau dahan pohon untuk membuat lubang guna menangkap serangga dan mengambil getah. Mereka bisa melakukan hal tersebut tanpa merasa sakit atau cedera.
Diketahui, burung pemanggang memiliki bulu ekor dan cakar yang kuat, sehingga mereka mampu terbang dan menjaga keseimbangan tubuh saat paruhnya menghantam batang pohon dengan kecepatan 7 meter per detik. Saat paruh mereka menyerang, kepalanya melambat sekitar 1.200 kali percepatan gravitasi. Semua hal ini terjadi tanpa menyebabkan kehilangan kesadaran atau kerusakan otak.
Sistem tulang hyoid pada tubuh burung pelatuk berfungsi untuk mendukung struktur lidahnya. Tulang ini memainkan peran krusial dalam mengurangi benturan pada tengkorak saat burung pelatuk sedang menghantam kayu dengan paruhnya secara keras.
Diketahui bahwa burung pelatuk tidak mengalami cedera kepala meskipun bergerak dengan kecepatan tinggi sekitar 6-7 m/s dan mengalami perlambatan hingga 1000 g saat menabrak batang pohon. Kekuatan yang luar biasa ini tidak hanya menyebabkan gegar otak dan sakit kepala parah pada sebagian besar hewan bertulang belakang, tetapi juga bisa menyebabkan cedera otak permanen. Tulang hyoid terletak di leher dan ditemukan pada semua hewan bertulang belakang. Tulang ini terdiri dari tulang rawan, tulang, serta jaringan ikat yang membantu mendukung otot lidah.
Pada manusia, bentuknya cukup kecil dan menyerupai huruf 'U'. Namun, pada burung, strukturnya lebih rumit. Tulang hyoid burung memiliki dua bagian yang memanjang dan melengkungi sekitar tulang tengkorak hingga ujung lidah, yang dikenal sebagai 'tanduk hyoid'.
Tulang hyoid pada burung pemangkat memiliki panjang yang luar biasa, sehingga mendorong lidah keluar dari paruhnya saat bergerak maju. Dengan demikian, burung pemangkat mampu memperpanjang lidahnya jauh ke dalam celah-celah pohon dan retakan kulit kayu, sehingga dapat menangkap serangga yang tersembunyi di tempat tersebut. Tulang hyoid ini juga mengelilingi tengkorak, menjaga posisi tulang hyoid tetap stabil, seperti sabuk pengaman atau ikatan yang kuat.
Yang menarik, tulang hyoid berfungsi ketika lidah tidak sedang sibuk menangkap serangga. Mirip dengan peredam kejut yang membuat sepeda lebih nyaman digunakan, demikian pula hyoid pada burung pelatuk yang mampu melindungi tengkorak dari dampak benturan. Struktur ini sangat fleksibel, sehingga saat dalam keadaan istirahat, ia mengelilingi tengkorak, seperti bantalan elastis dan pelindung bagi otak.
Tulang hyoid menunjukkan bahwa struktur tersebut terdiri dari ruas-ruas dan memiliki inti bagian dalam yang keras dengan lapisan luar yang lebih fleksibel. Ditemukan pula bahwa daerah belakang tulang hyoid memiliki ketahanan paling rendah terhadap melengkung, yang berarti area tersebut sangat lentur dan dirancang secara sempurna untuk menyerap benturan.
2. Burung golok mengubah arahnya setiap kali mengetuk
Burung pemukul sedikit mengubah posisi setiap kali mereka memukul untuk mengubah arah benturan pada tubuhnya. Burung ini menempel di kulit pohon dengan menggunakan ekornya dan kakinya yang kuat, yang juga membantu mengurangi dampak dari pukulan tersebut. Yang menarik, tidak semua jenis pohon akan dipilih oleh burung ini. Burung pemukul memilih pohon berkulit lunak dari kayu keras, seperti pohon aspen, pohon pirus, atau pohon kapas. Hal ini memudahkan burung dalam melakukan pukulan yang cepat dan efisien.
Mereka berkomunikasi antar sesama dengan "menabuh" pohon. Suara mereka bisa menunjukkan bahwa mereka sedang mencari pasangan atau menandai wilayah mereka. Selain itu, burung pelatuk mampu membuat lubang untuk bertelur di pohon yang sudah mati atau sedang sakit.
3. Otak burung pelatuk ukurannya kecil
Bukan hanya tulang hyoid, burung pelatuk juga terampil dalam menggunakan paruhnya. Mereka melakukan hal ini dengan cara yang mengurangi dampak pada area otak tertentu yang lebih rentan. Bentuk paruh mereka juga berperan, di mana paruh atas sedikit lebih panjang dan lebih keras dibandingkan paruh bawah. Hal ini memberikan perlindungan terhadap gigitan yang lebih kuat, sementara paruh atas yang sangat keras membantu menyerap benturan.
Selain itu, burung pelatuk memiliki otak yang sangat kecil, diperkirakan hanya seberat 0,07 ons. Semakin besar ukuran otaknya, semakin berat massanya, yang berarti semakin tinggi kemungkinan cedera. Faktor lain yang melindungi kepala burung pelatuk adalah durasi sentuhan antara pohon dan paruhnya yang sangat singkat. Durasi kontak tersebut hanya sekitar setengah hingga satu milidetik.
Keberhasilan burung pematuk tidak mengalami gegar otak meskipun sering mematuk kayu didukung oleh struktur tubuh yang luar biasa.Burungburung pemakan buah memiliki tulang hyoid yang dirancang untuk melindungi tubuhnya dari benturan, bentuk paruh yang diibaratkan seperti senjata penyerap benturan, serta struktur otak yang kecil sehingga mengurangi risiko cedera akibat benturan.
5 Burung Kayu Unik Asli Indonesia, Memiliki Kepala Merah 5 Fakta Burung Kayu Putih, Suka Mengonsumsi Sampah dan Mencuri Makanan


Comments
Post a Comment