Sebagai tetangga Bumi yang terdekat, kita semua pasti sudah tidak asing lagi denganBulan. Setiap malam, kita sering melihat Bulan yang bersinar terang di langit. Tidak hanya dilihat, banyak lembaga luar angkasa telah mengirimkan misi ke Bulan. Bahkan lebih mengejutkan, NASA pernah mengirimkan astronot ke Bulan dan menjadikan misi luar angkasa pertama dengan manusia mendarat di permukaannya.
Dikutip dari NASA, misi eksplorasi Bulan berlangsung antara tahun 1969 hingga 1972. Secara keseluruhan, terdapat 12 astronot yang telah melangkah di permukaan Bulan. Namun, jika astronot tersebut berhasil mendarat di Bulan dan kembali dengan selamat, apakah itu berarti manusia juga bisa tinggal di Bulan? Berikut penjelasannya!
1. Luas permukaan Bulan tidak melebihi wilayah Benua Asia
Pertama-tama, kamu perlu tahu bahwa ukuran Bulan sebenarnya tidak terlalu besar. Dari langit Bumi, Bulan terlihat besar, terutama saat purnama. Namun, hal ini bukan disebabkan oleh ukuran Bulan yang besar, melainkan karena jarak Bumi dan Bulan yang sangat dekat. Menurut data NASA, jarak rata-rata Bulan dengan Bumi saat ini adalah 384.400 kilometer. Sementara itu, diameter Bulan hanya sekitar 3.475 km dengan luas permukaan sebesar 38 juta kilometer.
Secara sekilas, Bulan tampak luas. Namun, jika dibandingkan dengan Bumi, Bulan jelas jauh lebih kecil. Sebagai contoh, Bumi kita memiliki luas permukaan sekitar 510 juta kilometer persegi. Bahkan dibandingkan dengan Benua Asia yang memiliki luas permukaan 44,5 juta kilometer persegi, Bulan tetap lebih kecil.
2. Berbeda dengan Bumi, Bulan memiliki lapisan udara yang sangat tipis
Salah satu alasan utama mengapa Bumi layak dihuni adalah karena adanya atmosfer yang tebal. DilansirNational Geographic, atmosfer adalah lapisan udara yang mengelilingi sebuah planet. Bukan sekadar udara biasa, atmosfer di Bumi melindungi makhluk hidup di permukaan dari paparan sinar ultraviolet, menjaga suhu Bumi tetap nyaman, serta mendorong pergerakan angin dan cuaca. Sama seperti Bumi, Bulan sebenarnya juga memiliki atmosfer.
Sayangnya, atmosfer yang ada di Bulan sangat tipis, bahkan hanya terdiri dari lapisan eksosfer. Tidak hanya itu, atmosfer Bulan tidak mampu melindungi dari paparan sinar ultraviolet Matahari, bahkan tidak mampu menyebarluaskan energi Matahari sehingga menyebabkan suhu di sana menjadi sangat ekstrem. Bayangkan saja, daerah yang terkena sinar Matahari bisa mencapai suhu di atas 121 derajat Celsius. Sementara itu, wilayah yang tidak terkena sinar Matahari bisa memiliki suhu turun hingga -133 derajat Celsius.
3. Bulan juga rentan mengalami benturan dengan asteroid
Salah satu keunggulan atmosfer yang tebal adalah kemampuannya melindungi sebuah planet dari benturan meteor. Bumi kita memiliki atmosfer yang tebal. Akibatnya, ketika sebuah meteor memasuki Bumi, meteor tersebut akan terbakar habis di lapisan atmosfer. Meskipun ada yang sampai ke permukaan, ukurannya tidak terlalu besar sehingga tidak menyebabkan kerusakan yang besar. Namun, diBulan, atmosfernya tidak mampu melindungi permukaan dari benturan. DilansirLive Science, sekitar 100 meteor berukuran bola tenis menghancurkan Bulan setiap hari. Sementara itu, meteor dengan diameter 2,5 meter menabrak Bulan setiap empat tahun sekali.
Meski terdengar sepele, karena atmosfer yang tipis, meteor dapat bergerak dengan cepat tanpa mengalami hambatan. Di Bulan, meteor paling lambat mampu bergerak dengan kecepatan 20 km per detik, sedangkan yang tercepat bisa mencapai kecepatan 72 km per detik. Dengan kecepatan demikian, meteor yang kecil pun mampu menghasilkan energi besar saat terjadi tabrakan. Sebagai contoh, bayangkan meteor dengan massa 5 kilogram. Jika menabrak Bumi, meteor tersebut kemungkinan besar akan habis terbakar di atmosfer. Namun, di Bulan, meteor itu akan membentuk kawah sepanjang 9 meter.
4. Air di Bulan berbeda dengan air di Bumi
Meskipun permukaannya terlihat kering, awalnya para ilmuwan mengira Bulan tidak memiliki air. Namun, pada tahun 2008, pesawat ruang angkasa Chandrayaan-1 dari India berhasil menemukan molekul hidroksil yang menunjukkan adanya air. Tapi jangan terlalu bersemangat! Menurut NASA, air yang ada di Bulan berbeda dengan air di Bumi. Di Bumi, air berbentuk cair.
Di Bulan, airnya berbentuk es dan sebagian besar terkumpul di daerah kutub yang tidak pernah terkena sinar Matahari. Selain itu, es ini kemungkinan besar bercampur dengan tanah Bulan, terpendam jauh di bawah permukaan, atau mungkin berupa lapisan es. Selain daerah kutub, es juga ditemukan di beberapa titik meskipun dalam jumlah yang sedikit. Sementara itu, di area yang panas, suhunya sangat tinggi sehingga es dapat menguap dengan cepat.
5. Apakah manusia dapat tinggal di bulan?
Bulan dan Bumi memang berdekatan, namun kondisi keduanya sangat berbeda. DilansirSpace, untuk satu putaran penuh, Bulan memerlukan waktu minimal 28 hari Bumi. Artinya, siang di sana akan berlangsung selama 14 hari dengan durasi malam yang sama panjangnya. Sebenarnya, jika hanya hari yang panjang, manusia mungkin bisa bertahan. Namun, dengan suhu yang sangat ekstrem baik saat siang maupun malam, hidup di sana menjadi tidak mungkin dilakukan.
Meskipun manusia mampu bertahan, untuk tinggal di sana kita benar-benar harus memulai semuanya dari awal, mulai dari menciptakan udara yang bisa dihirup, membangun rumah yang mampu melindungi kita dari benturan meteoroid, menemukan cara mendapatkan air, hingga mengembangkan sesuatu yang bisa dimakan secara berkelanjutan. Masalahnya, tanah Bulan tidak sama dengan tanah Bumi. Tanah di sana berbentuk seperti pasir halus yang berdebu dan mengandung banyak logam beracun yang berbahaya bagi tanaman. Manusia mungkin bisa membawa sumber daya sendiri dari Bumi, tetapi semua sumber daya tersebut akan membuat roket terlalu berat dan membahayakan perjalanan.
Manusia memang pernah mengunjungiBulandan kembali dengan selamat. Namun, tinggal secara tetap dan hanya berkunjung merupakan dua hal yang berbeda. Membangun kehidupan di Bulan tidak hanya mahal, tetapi juga sangat berisiko. Dengan berbagai risiko tersebut, tidak mengherankan jika NASA dan lembaga luar angkasa lainnya lebih memilih mengirimkan pesawat tanpa awak untuk meneliti Bulan.
Referensi
“Atmosphere”. National Geographic. Diakses Oktober 2025.
“Facts About the Moon”. NASA. Diakses Oktober 2025.
Bagaimana Kami Bisa Tinggal di Bulan?Institute of Physics. Diakses Oktober 2025.
Banyak Berapakah Meteorit yang Menghancurkan Bulan?Live Science. Diakses Oktober 2025.
Cara Tinggal di BulanSpace.com. Diakses Oktober 2025.
Apakah Ada Air di Bulan? Kami Tanya ke Ilmuwan NASANASA. Diakses Oktober 2025.
“Moon Exploration”. NASA. Diakses Oktober 2025.
Ketika Meteor Menghancurkan BulanNASA. Diakses Oktober 2025.
“Size of Earth”. Space.com. Diakses Oktober 2025.
“Size of the Moon”. Space.com. Diakses Oktober 2025.
Suhu dan Atmosfer Bulan.NASA. Diakses Oktober 2025.
“Weather on the Moon”. NASA. Diakses Oktober 2025.
Question | Answer |
|---|---|
Dari manakah manusia memperoleh oksigen di sana? | Para ilmuwan berencana mengambil oksigen dari regolit (tanah bulan) yang kaya akan oksigen yang terikat. Selain itu, oksigen juga dapat diperoleh melalui proses elektrolisis dari es air yang ada di kawah-kawah kutub bulan yang selalu gelap. |
Di bagian mana manusia akan membangun tempat tinggal? | Salah satu lokasi yang paling menjanjikan adalah di dalam terowongan lava (lava tubes) atau gua alami di bawah permukaan Bulan. Tempat ini memberikan perlindungan alami terhadap benturan meteorit, suhu yang sangat ekstrem, serta radiasi berbahaya tanpa perlu membangun dinding pelindung yang tebal. |
Bagaimana manusia memperoleh air di Bulan? | Penelitian telah membuktikan keberadaan air es di kutub bulan bagian selatan. Es ini dapat diekstraksi dan disaring untuk dikonsumsi, digunakan dalam pertanian, atau bahkan dipisahkan menjadi hidrogen sebagai bahan bakar roket untuk perjalanan lebih jauh (misalnya ke Mars). |





Comments
Post a Comment