Asal-usul tenaga nuklirdapat dikatakan sangat rumit karena tidak hanya ditemukan oleh satu individu. Tenaga nuklir adalah hasil karya banyak ilmuwan dan insinyur yang bekerja melalui berbagai generasi serta negara. Energi nuklir berkembang secara perlahan melalui teori, pengujian, kesalahan, serta ketekunan.
Setiap kontribusi berbeda dalam teka-teki besar penggunaan energi nuklir berasal dari negara, sistem politik, dan tujuan yang berbeda. Jadi, siapa saja yang pertama kali menemukan nuklir? Lalu, bagaimana nuklir bisa berkembang seperti sekarang ini, terlebih dengan kemunculan senjata nuklir yang begitu heboh?
1. Senjata nuklir pertama kali diciptakan dengan tujuan militer
Apa yang saat ini kita sebut sebagai energi nuklir bukanlah satu penemuan tunggal. Ini merupakan serangkaian temuan yang bertahap mengungkapkan bagaimana energi tersimpan dalam atom dan bagaimana energi tersebut bisa dilepaskan serta dikendalikan. Namun, reaksi fisi nuklir pertama yang terkendali bukanlah untuk menghasilkan listrik. Reaksi ini dilakukan sebagai bagian dari Proyek Manhattan dan berkaitan langsung dengan Perang Dunia II. Sejak itu, keinginan manusia untuk menguasai sumber daya baru ini bergerak ke arah yang jauh lebih gelap.
Perang dan politik menentukan arah perkembangan ilmu pengetahuan. Akhirnya, bom atom pertama lahir. Energi nuklir juga menjadi sumber tenaga bagi kapal induk dan kapal selam Amerika. Namun, tanpa pemanfaatan dan penelitian militer, mungkin kita tidak akan pernah mengetahui cara memanfaatkan energi nuklir serta menggunakannya untuk kebutuhan sipil.
2. Asal mula energi nuklir bermula pada masa Yunani kuno
Tidak mungkin bagi kita untuk menunjuk satu tokoh sejarah dan berkata, "inilah orang yang menemukan tenaga nuklir." Karena energi nuklir bukanlah hasil dari satu momen kejeniusan atau satu momen "aha!" saja. Ini adalah hasil dari penelitian ilmiah yang berlangsung selama beberapa dekade oleh ratusan individu di berbagai negara.
Dikutip Britannica, semuanya dimulai dengan penemuan para filsuf Yunani Kuno pada abad kelima SM, yaitu Democritus dan gurunya, Leucippus. Mereka menyimpulkan bahwa unit terkecil dari materi, yang tidak terlihat dan tidak dapat dibagi lagi disebut sebagai atomos. Dengan demikian, diyakini bahwa atom memang ada. Namun, ilmuwan abad kesembilan belas dan dua puluhlah yang pertama kali menemukan sifat-sifat atom. Atom dari unsur-unsur tertentu tidak stabil dan akan melepaskan energi saat mengalami proses peluruhan radioaktif.
3. Penemuan fisi nuklir dan reaksi berantai yang dapat dikendalikan pertama kali
Di akhir tahun 1930-an, ditemukan fisikanuklir, sebagaimana dilansir Science Daily. Ahli kimia Jerman Otto Hahn dan Fritz Strassmann mengembangkan interpretasi teoritis dari penelitian fisikawan Lise Meitner dan Otto Frisch, yang menemukan bahwa inti atom dapat pecah serta melepaskan energi dalam jumlah besar. Ini merupakan langkah penting, tetapi belum cukup untuk mencapai tujuan pencarian energi tak terbatas.
Namun, hanya fisika saja tidak menghasilkan energi yang bisa digunakan dan diubah menjadi listrik. Hal ini disebabkan karena konsep reaksi berantai belum terbukti. Reaksi berantai yang terkendali pertama kali berhasil dicapai pada tahun 1942 oleh pemenang Nobel Enrico Fermi. Fisikawan asal Italia-Amerika ini kini dikenal sebagai "Bapak Zaman Nuklir".
Reaktor pertama yang dibangun oleh Enrico Fermi, dikenal dengan nama Chicago Pile-1, bersifat murni eksperimental. Reaktor ini tidak menghasilkan daya secara signifikan dan tidak memerlukan sistem pendinginan. Ia mampu mengubah panas dari proses fisi menjadi sumber listrik yang dapat diandalkan. Penemuan ini berhasil menjawab berbagai tantangan ilmiah dan teknis.
Namun, desain reaktor, pengayaan uranium, pendinginan reaktor, dan pemisahan isotop bukanlah hasil karya dari satu individu saja. Para pakar dalam bidang metalurgi, fisika, kimia, serta teknik mesin bekerja sama untuk menciptakan reaktor nuklir pertama yang stabil dan mampu menghasilkan listrik. Oleh karena itu, penemuan tersebut saling berkaitan dan dikembangkan bersama.
4. Perang dan politik menyebabkan nuklir digunakan demi kepentingan manusia
Sepanjang masa, perang sering kali menjadi pemicu bagi munculnya penemuan ilmiah dan kemajuan serta penerapan teknologi baru yang pesat. Tenaga nuklir tidak terkecuali. Tekanan militer yang mendesak selama Perang Dunia II serta pendanaan yang besar dari pemerintah mengubah fisi nuklir menjadi senjata.
Uji coba rahasia Amerika Serikat yang dikenal dengan Nama Proyek Manhattan mengumpulkan ribuan ilmuwan, insinyur, dan pekerja industri dalam upaya menciptakan bom atom pertama. Pada masa perang, sebagian besar penelitian tentang teknologi nuklir difokuskan pada pengembangan senjata, bukan untuk produksi energi seperti yang saat ini dilakukan. Setelah perang usai, keinginan politik mengalihkan teknologi nuklir tersebut ke arah yang berbeda.
Kekuatan hancur yang ditunjukkan oleh bom di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 menunjukkan bahwa energi atom bisa dimanfaatkan untuk kebaikan umat manusia. Nuklir tidak hanya menjadi alat perang, tetapi juga sumber daya tak terbatas. Di Amerika Serikat, peralihan dari konflik menuju perdamaian diatur melalui pembentukan United States Atomic Energy Commission atau Komisi Energi Atom Amerika Serikat. Komisi ini mengambil alih pengembangan tenaga nuklir dari pihak militer. Dengan bimbingan AS, proyek nuklir mulai mengembangkan reaktor baru yang fokus pada produksi listrik, seperti yang dijelaskan oleh World Nuclear Association.
Saat ini, kita menyaksikan pemanfaatan energi nuklir untuk keperluan damai dan sipil. Namun, kita masih melihat rudal berisi bahan nuklir serta senjata nuklir, terlebih lagi di tengah konflik bersenjata yang sedang berlangsung saat ini. Dalam konteks ini, keberadaan energi nuklir tidak lepas dari dinamika geopolitik dan perang. Warisan tersebut masih terdengar dalam diskusi saat ini mengenai keamanan dan pengelolaan energi.nuklir untuk ke depannya.
Mengapa Harga Plastik Meningkat Di Tengah Ketegangan di Selat Hormuz? 4 Program NASA pada 2026, Termasuk Artemis II



Comments
Post a Comment