
PR JATIM- Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mulai melakukan perubahan terhadap pengembangan penelitian lingkungan di Surabaya. Dalam kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya, kampus teknologi ini memilih Kebun Raya Mangrove (KRM) sebagai tempat uji coba teknologi aplikatif yang berbasis ekosistem pesisir.
Tindakan ini bukan hanya merupakan tindak lanjut dari kerja sama yang resmi. Di lapangan, beberapa teknologi telah diuji, mulai dari sensor IoT untuk mengawasi kondisi lingkungan hingga penelitian biji padi yang mampu tumbuh di lahan mangrove.
Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Bambang Pramujati, menekankan bahwa pendekatan ini dirancang berdasarkan konsep "living laboratory". Dengan kata lain, penelitian tidak terbatas hanya di dalam kelas atau laboratorium kampus, tetapi langsung diuji dalam lingkungan nyata.
"Beberapa lahan telah dimanfaatkan untuk penelitian sensor IoT dan pengembangan benih yang adaptif. Ini bukan sekadar gagasan, tetapi sudah berjalan," katanya saat melakukan inspeksi di kawasan tersebut, Jumat (10/4).
Lahan mangrove seluas 34 hektar di pesisir timur Surabaya dinilai sangat cocok. Selain berfungsi sebagai habitat alami bagi berbagai spesies, area ini juga menghadapi tantangan nyata yang berasal dari perubahan iklim, kegiatan pariwisata, serta gangguan ekosistem. Kondisi ini justru dianggap sebagai "ruang uji" yang sesuai untuk penelitian teknologi lingkungan.
Tidak hanya terbatas pada penelitian dasar, ITS juga mulai mencari solusi nyata. Salah satu contohnya adalah mengganti perahu wisata yang menggunakan bahan bakar diesel dengan kapal yang bergerak menggunakan listrik dan panel surya.
Sejauh ini, suara bising dan polusi dari mesin diesel dianggap mengganggu lingkungan hidup burung migran yang merupakan salah satu daya tarik utama wilayah tersebut.
"Ke depan, transportasi air perlu lebih diam dan bersih. Hal ini penting untuk menjaga ekosistem tetap stabil," ujar Bambang.
Pendekatan multidisiplin mulai diadopsi. Departemen Biologi fokus pada pelestarian keanekaragaman hayati, sedangkan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) serta Arsitektur berupaya merancang kawasan yang tetap ramah lingkungan sekaligus menarik sebagai destinasi wisata.
Di sisi lain, BRIDA Kota Surabaya menganggap kolaborasi ini sebagai kesempatan untuk mempercepat pemanfaatan hasil penelitian—bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi perekonomian masyarakat pesisir.
Kepala BRIDA, Agus Imam Sonhaji, menekankan perlunya penerapan teknologi yang memberikan dampak langsung, termasuk pengembangan silvofishery (wanamina) guna meningkatkan hasil tambak tanpa merusak ekosistem mangrove.
"Jika penelitian hanya berhenti pada laporan, dampaknya tidak besar. Namun, jika masuk ke masyarakat, hal ini dapat menjadi pendorong ekonomi baru," katanya.
Model "laboratorium hidup" ini menjadi tanda perubahan arah penelitian perguruan tinggi menuju pendekatan yang lebih praktis, berbasis masalah nyata, serta langsung terkait dengan kebutuhan kota.
Jika berhasil, Taman Laut Mangrove Surabaya tidak hanya berfungsi sebagai area konservasi, tetapi juga menjadi pusat inovasi pesisir di mana teknologi, ekologi, dan ekonomi bersatu dalam satu sistem ekologis.
Comments
Post a Comment