Dikenal sebagai salah satu komedian yang sedang merambah dunia akting melalui berbagai film komedi, kali ini Ardit Erwandha justru siap membuat kita "terisak air mata" lewat perannya sebagai Arga dalam film tersebut.Tunggu Aku Sukses Nanti. Bukan hanya peran biasa, peran ini terasa sangat pribadi bagi Ardit karena mengangkat isurelatabilitytingkat yang sangat tinggi yang ia alami sejak prosesreading berlangsung. Dimulai dari tekanan dari keluarga besar, rasa kurang percaya diri yangnggakdibuat-buat, hingga perjuangan berat menjadi "pejuang rupiah" untuk meningkatkan martabat orang tua.
Dalam wawancara eksklusif dengan POPBELA, Ardit secara terbuka mengungkapkan bagaimana ia merasa "terjebak" masuk ke dunia drama yang penuh perasaan, meskipun selama ini ia lebih nyaman berada di bidang komedi.
Pernyataan awal Ardit: tidak perlu berpura-pura merasa rendah diri
Mengambil peran sebagai Arga yang sering dibandingkan dengan sepupunya yang sukses, Ardit mengatakan ia tidak memerlukan banyak usaha untuk tampil rendah diri. Baginya, perasaan itu muncul secara alami saat melihat lawan mainnya di lokasi syuting. Ardit merasa lingkungan sekitarnya sangat mendukung dalam menciptakan suasana kaku yang nyata.
Ardit menyampaikan bahwa pemain film ini diisi oleh tokoh-tokoh ternama dan senior dalam dunia hiburan, seperti Ayu Lasmi, Sarah Sehan, hingga Ari Wahab. Kehadiran mereka di depan mata membuat Ardit merasa "kecil" tanpa perlu dipaksakan.
Saya tidak perlu berpura-pura merasa minder karena memang sudah seharusnya saya merasa minder,ucapannya tulus sambil tertawa ketika POPBELA pertama kali bertanya tentang tekanan mental yang ia alami selama proses syuting.
Bahkan sejak tahap readingArdit merasa mendapat dukungan dari suasana yang ada. Kehadiran aktor-aktor ternama tersebut membuat rasa percaya diri karakter Arga yang ia perankan terasa berkurang secara alami. Hal ini membuat peralihan emosinya menjadi lebih alami karena apa yang dirasakan Ardit sebagai aktor sangat sesuai dengan apa yang dialami Arga sebagai tokoh.
Rasa sakitnya dibandingkan dengan sepupu membuat banyak orang merasa terhubung dengan cerita ini
Salah satu permasalahan utama yang dihadapi Arga adalah perbandingan terus-menerus dengan sepupunya yang dinilai lebih berprestasi. Ardit mengungkapkan bahwa momen paling menyedihkan bagi Arga bukanlah ketika dia gagal, tetapi saat upayanya untuk menjaga harga diri orang tuanya tidak dihargai. Tekanan dari keluarga besar ini menjadi bumbu yang sangatrelatedengan kehidupan nyata yang dimiliki banyak orang.
Arga digambarkan berusaha memberikan segalanya atauall outuntuk menyelamatkan orang tuanya dari ejekan tante-tantanya. Namun, kenyataan yang pahit kembali menghampiri ketika ia menyadari seberapa keras ia berjuang, ia tetap merasa tidak berarti dibandingkan sepupu-sepupunya yang lain. Ardit menjelaskan,Pada saat ia merasa hampir menang, ternyata hal itu tidak berarti apa-apa di hadapan orang-orang itu, yang paling menyakitkan adalah itu.
Bagi Ardit, memainkan sisi yang penuh perasaan ini memerlukan kedalaman emosional karena Arga tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk harga diri keluarganya. Ada kelelahan yang sangat besar ketika seseorang berusaha membuktikan diri namun tetap dianggap remeh oleh lingkungan sosialnya. Hal ini menjadi inti dari konflik batin yang ingin Ardit sampaikan kepada penonton.
Emosi yang meledak seperti bom yang tersimpan rapi lalu terkena sentuhan jari.
Banyak orang menganggap Arga sebagai seseorang yang mudah marah, padahal sesungguhnya ia sangat sabar. Ardit menjelaskan bahwa kemarahan yang terlihat ditrailerfilm merupakan hasil dari rasa kesal yang telah "dibudidayakan" sejak ia masih kecil. Ia mengurung perasaan tersebut selama bertahun-tahun melalui berbagai momen pertemuan keluarga atau Lebaran yang penuh tekanan.
Selama proses pengambilan gambar, Ardit dan sutradara Naya Anindita sepakat untuk mengembangkan perasaan Arga melalui tahapan tertentu. Penonton akan diajak menyaksikan bagaimana Arga mulai merasa tidak nyaman, marah, hingga akhirnya mencapai titik puncak di mana ia meledak.Jadi memang kita mulai dari awal, sudah ada perasaan kesal, marah, dan emosi yang meledak. Nah, hal itu kita bangun secara bertahap,jelas Ardit tentang perkembangan karakternya.
Menariknya, Arga tetap berusaha agar kemarahannya tidak diketahui oleh keluarganya secara langsung sampai pada titik tertentu. Ia menyimpan seluruh beban itu sendirian untuk melindungi perasaan orang tuanya.Kita memang ingin orang tahu bahwa Arga marah, tetapi keluarganya tidak mengetahuinya. Jadi selama proses itu, yang kita pikirkan hanyalah hal tersebut,tambahkan Ardit mengenai dinamika perasaan karakternya.
Ardit yang berusaha meninggalkan area kenyamanannya dalam dunia komedi tunggal
Terkenal sebagai pelawak, memainkan peran dalam film drama murni menjadi tantangan besar bagi Ardit Erwandha. Ia sempat meragukan kemampuannya sendiri untuk membawakan karakter Arga yang sangat rumit.Jujur, bukan Arga yang belajar dari Ardit. Tapi Ardit yang belajar dari Arga bagaimana dia berjuang, bagaimana dia mampu mengakui perasaannya,saya mengenai proses memahami peran ini.
Ardit merasa bahwa jika ia ingin beralih ke genre drama, maka ia perlu bekerja sama dengan seorang sutradara yang memiliki selera yang ia percayai, dan Naya Anindita adalah orang yang tepat. Ia sempat merasa "terjebak" saat pertama kali membaca skrip lengkap karena ternyata bagian dramanya sangat mendominasi dibandingkan komedi yang biasa ia mainkan. Ardit bercanda,Baca selengkapnya. Ya Allah. Aku tertipu. Ditipu. Ini semua drama. Bagaimana aku bisa memainkannya?
Meskipun berada di luar area nyaman, Ardit merasa bantuan datang karena isu yang dibahas sangat dekat dengan kehidupannya sehari-hari. Ia yakin setiap orang pasti memiliki sisi "Arga" dalam diri masing-masing. Hal ini membuatnya tidak perlu mencari referensi terlalu jauh karena ingatannya sendiri sudah cukup membantunya memahami karakter tersebut.
Ardit yang sering mempelajari dari Arga
Melalui tokoh Arga, Ardit memperoleh pandangan baru mengenai makna perjuangan dan pengakuan diri. Ia melihat Arga sebagai figur yang tangguh dalam mencari cara untuk meningkatkan martabat orang tuanya di hadapan keluarga besar. Perjalanan Arga dalam mengejar keadilan dalam dinamika keluarga besar menjadi titik refleksi yang kuat bagi Ardit sendiri.
Ardit berharap penonton tidak hanya memandang film ini sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai pendamping bagi mereka yang sedang berjuang. Tokoh Arga dianggap sebagai wajah dari para "pejuang rupiah" yang sering kali harus mengorbankan harga diri demi kebahagiaan orang tua.Arga ini mungkin sedikit banyak kita semua memiliki Arga dalam diri kita. Jadi kita tahu bagaimana rasanya dan bagaimana menghadapinya,penjelasannya tentang kedekatan karakter ini dengan penonton.
Bagi teman-teman di luar sana yang merasa belum sampai pada puncak kesuksesan, Ardit memberikan pesan yang sangat menenangkan. Ia menyampaikan bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri dan makna sukses yang berbeda-beda. Pesan penutupnya singkat namun penuh makna untuk para 'Arga' di luar sana:"Pelan-pelan. Pasti sampai."
Bagaimana, Bela? Siap relatedengan kisah hidup Arga melalui filmTunggu Aku Sukses NantiUndang anggota keluarga dan kerabat untuk menontonnya,ya!
Reza Rahadian Membuka Sisi Lain Film 'Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa', Angkat Topik Sosial Djenar Maesa Ayu Berperan sebagai Nyi Gayatri, Figur Rahasia dalam Film 'Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa' Kevin Julio dan Meriam Bellina Berbagi Tips Menjaga Hubungan Ibu dan Anak




Comments
Post a Comment