
Ratusan juta warga Indonesia kembali ke kampung halaman mereka saat Lebaran 2026, seperti yang selalu terjadi setiap tahun. Hampir 8 juta orang menggunakan transportasi umum mulai dari 8 hari sebelum lebaran, sementara 100 juta penduduk lainnya diperkirakan memakai kendaraan pribadi—sekitar 75% di antaranya mengendarai mobil—untuk sampai dan merayakan idul fitri di "tempat asal" mereka.
Para pakar akademik sudah lama mengungkap makna di balik tradisi mudik di Indonesia, khususnya menjelang perayaan lebaran. Salah seorang akademisi, Vissia Ita Yulianto, dalam penelitian doktoralnya di University of Freiburg menyatakan bahwa mudik berkaitan erat dengan kegiatan merantau.
Mereka yang melakukan perjalanan pulang saat menjelang lebaran, menurut Vissia, adalah para pekerja migran. Namun, pekerja migran tersebut tidak hanya terdiri dari mereka yang berangkat ke kota dengan bekal keterampilan dan pendidikan, karena sebagian besar berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Orang-orang ini, dalam kajian Vissa, meninggalkan kampung halaman bukan untuk mencari pengalaman, tetapi untuk menghadapi tantangan hidup.
Menurut Vissa, pulang kampung menjadi jembatan bagi individu yang memiliki identitas perkotaan dan pedesaan.
Melalui perjalanan mudik, ia menyebut bahwa seseorang mampu menjaga identitas mereka, yang tidak hanya terkait dengan kampung halaman, tetapi juga masa lalu—dengan asumsi bahwa mereka telah meninggalkan gaya hidup lama di desa dan beralih ke modernitas di perkotaan.

Di studi lain, antropolog Noel Salazar dari Universitas Katholieke Leuven di Belgia menyebutkan bahwa mudik lebaran tidak hanya memiliki makna spiritual atau agama, tetapi juga memiliki makna budaya dan ekonomi.
Pulang kampung merupakan hal yang penting bagi mereka yang tinggal di luar kota,menurut Noel. Alasannya, secara budaya di berbagai kelompok masyarakat adat di Indonesia, proses pergi dan kembali ke kampung halaman memiliki makna yang sama-sama penting.
Noel mengatakan, nilai budaya antara perantauan dan pulang kampung tetap sama meskipun mobilitas penduduk dari daerah pedesaan ke perkotaan kini tidak bersifat sementara—karena para perantau sekarang tinggal dan menetap di kawasan perkotaan.
Sebelum perayaan lebaran 2026, BBC News Indonesia mengumpulkan kisah-kisah individu yang pulang kampung.
Kami menemui mereka yang melintasi dari Jawa ke Sumatra menggunakan sepeda motor, yang naik bus dari Kalimantan menuju Madura, serta yang melewati lautan di wilayah timur Indonesia. Inilah kisah mereka.
Padat sesak di dalam kapal yang penuh penumpang
Ratusan pemudik dari wilayah timur Indonesia membanjiri kapal laut, satu minggu sebelum hari raya idul fitri. Beberapa di antaranya terpaksa beristirahat di lorong dan dek terbuka kapal karena tidak mendapatkan tempat tidur.
Beberapa di antara mereka mengatakan bahwa terpaksa melewati kondisi kapal seperti itu karena biaya transportasi lain yang lebih mahal, seperti pesawat.
BBC News Indonesia melacak Kapal Motor Sinabung yang dikelola oleh PT Pelayaran Nasional Indonesia, pada akhir pekan kedua bulan Maret lalu. Kapal tersebut beroperasi pada rute dari Jayapura, Biak, Manokwari, Sorong, Bacan, Ternate, Bitung, Banggai, Bau-bau, Makassar, Balikpapan sebelum tiba di tujuan terakhirnya di Surabaya.

Imam Alfian dan Rina Marzuki merupakan dua dari ratusan penumpang KM Sinabung yang sedang beristirahat di dek kapal dan lorongnya. Penyebabnya, kapal penuh dengan para pemudik.
Rina adalah pendatang dari Kota Jayapura. Ia kaget ketika pertama kali melihat keadaan kapal yang penuh sesak dengan penumpang.
"Bagi sebagian orang yang tidak menyukai keramaian, keadaan ini sedikit mengganggu. Namun saya masih mampu menahan karena ini masa libur, jadi kapal pasti akan penuh," ujarnya.
Namun Rina mengeluhkan fasilitas yang tidak diberikan kepada penumpang. Ia tidak dapat beristirahat di atas tempat tidur.
"Tiket saya yang tidak memiliki tempat tidur, bisa yang tanpa area istirahat. Memang tidur harus di tempat yang sederhana, misalnya di koridor," kata Rina.

Selama perjalanannya, Rina sering kali berpindah-pindah untuk mencari tempat istirahat.
"Pada awal perjalanan saya berada di dek 5, tetapi karena banyak penumpang yang turun di Bau-Bau maka petugas meminta kami pindah ke dek 4," katanya.
Meskipun menyadari akan menghadapi situasi demikian, Rina sejak awal tetap bersikeras untuk kembali ke kampung halamannya.
"Tujuannya memang ingin pulang kampung dan bertemu dengan keluarga. Ini pengalaman mudik pertama saya, jadi saya hanya ingin menikmatinya," katanya.
Sebenarnya sudah mempertimbangkan jenis transportasi lain, tetapi karena barang yang saya bawa cukup banyak, mungkin naik kapal lebih efisien dan hemat.
"Jika menggunakan pesawat, pasti harganya lebih tinggi," ujar Rina.

Selama perjalanan, Rina menyampaikan bahwa awak kapal telah memberikan beberapa peringatan. Penumpang, menurutnya, diberi tahu untuk tidak duduk di tepi pelabuhan.
Beberapa petugas juga memberi peringatan kepada penumpang agar tidak merokok di dalam ruangan.
Namun Rina berpendapat bahwa kapasitas penumpang dan kebersihan fasilitas seharusnya diperbaiki oleh PT Pelayaran Indonesia.
"Jumlah penumpang perlu dibatasi agar kapal tidak terlalu penuh dan penumpang dapat memperoleh haknya—jangan sampai banyak penumpang yang ternyata tidak mendapatkan tempat tidur," ujar Rina.
"Selain itu, kamar mandi tergolong sangat kotor dan di dalam kapal ini juga banyak terdapat kecoa," katanya.
BBC News Indonesia memperhatikan penumpang yang mengisi hampir semua sudut kapal, mulai dari lorong dek, perahu karam, hingga deck terbuka. Beberapa di antaranya membentangkan tikar untuk tempat bersantai.

Berbeda dengan Rina, Imam Alfian, penumpang asal Bitung yang akan pergi ke Surabaya, sudah terbiasa dengan kondisi kapal yang penuh.
Namun, pria asal Pemalang, Jawa Tengah, mengatakan keramaian tersebut tetap menimbulkan ketidaknyamanan, terutama terkait keterbatasan ruang.
Bagaimana lagi, tidak ada tempat sehingga harus tidur di luar ruangan. Demikian juga
Toilet dan kamar mandi umum. Salurannya tersumbat. Fasilitas kapal memang perlu diperbaiki," katanya.

Meskipun demikian, keinginan untuk merayakan Idul Fitri di kampung halaman lebih kuat daripada ketidaknyamanan yang dirasakan Imam.
"Harus merayakan lebaran di kampung dan bertemu dengan keluarga. Saya bekerja di laut sebagai nelayan, sudah cukup lama tidak pulang. Meskipun kapal penuh, saya harus kembali," katanya.
"Sebenarnya naik pesawat lebih nyaman dan lebih cepat, tetapi harga tiketnya sangat mahal. Jadi saya memilih yang harganya terjangkau. Saya memilih jalur laut ini," katanya.
'Mudik ibarat sebuah ritual'
Bagi Yanti, pulang kampung pada lebaran tahun 2026 merupakan momen penting. Ibu yang memiliki dua anak ini akan kembali ke kampung halamannya untuk pertama kalinya.
Yanti bersama dua anaknya melakukan perjalanan darat dan laut, dari Kota Palopo di Sulawesi Selatan menuju Bau-Bau di Sulawesi. Suami Yanti tidak ikut dalam perjalanan ini karena sedang merayakan lebaran di rumah orang tua.
Untuk tiba di kampung halamannya di Bau-bau, Yanti bersama dua orang anaknya terlebih dahulu harus melakukan perjalanan darat sekitar 9 jam dari Palopo menuju Makassar.

Naik bus umum, mereka tiba di Makassar pada hari Kamis (19/03). Tidak lama setelah itu, mereka pergi ke pelabuhan. Kapal yang akan mereka naiki baru saja melepaskan jangkarnya di Pelabuhan Anging Mammiri, Makassar, pukul 21.00 WITA.
"Tidak apa-apa menunggu di pelabuhan. Bagi saya ini momen penting, bisa bertemu kembali dengan keluarga besar di kampung," kata Yanti.
Sementara menunggu kapal, Yanti bersama anak-anaknya duduk di lantai yang ditutupi karung bekas. Orang-orang yang pulang kampung lainnya juga menunggu dengan cara yang sama.

Menurut Yanti, keadaan tersebut bukan menjadi hambatan karena ia memahami bahwa jumlah kursi di area menunggu penumpang terbatas.
"Tidak masalah kalau tidur di lantai, kan tidak tinggal di sini. Asalkan bisa pulang kampung bersama anak-anak. Apalagi nanti Lebaran ini harus berkumpul dengan keluarga," kata Yanti.
Yanti akan melakukan perjalanan menggunakan Kapal Motor Tilongkabila menuju kota Bau-bau, yang memakan waktu sekitar 12 jam.

Para pemudik lainnya, Sunarti, pulang kampung bersama dua orang putrinya dari Makassar ke Bau-bau. Mudik bagi perempuan yang bekerja di Makassar sejak tahun 1995 ini memiliki makna yang sangat mendalam.
"Kami sekeluarga memang sudah memiliki komitmen untuk selalu pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga di Bau-Bau," katanya.
"Di tahun lalu ayah masih ada. Pada tahun ini kami berupaya untuk memperkuat kembali suasana berkumpul keluarga di rumah," ujar Sunarti.
Sunarti adalah karyawan perusahaan swasta. Ia sempat mengalami kesulitan dalam mendapatkan tiket kapal yang menurutnya habis begitu cepat.
"Perjalanan pulang kampung ini bagi saya seperti sebuah upacara, untuk kembali dan tetap bersatu dengan keluarga," katanya.
"Maka kemarin saya mencari tiket kapal tanggal 16, tetapi habis jadi yang dapat adalah tiket hari ini. Kakak saya sudah memesan setelah ayah meninggal tahun lalu agar kami tetap berkumpul," kata Sunarti.

Selama arus mudik lebaran 2026, PT Pelindo Regional 4 memprediksi jumlah pemudik, baik yang berangkat maupun yang melintasi, di Pelabuhan Anging Mammiri mencapai 132.306 orang.
Jika tidak pulang, terasa ada yang hilang
Lalu lintas mudik Lebaran tidak hanya terkait dengan kemacetan atau antrean panjang di pelabuhan. Di beberapa titik perlintasan, seperti kawasan Tugu Siger—gerbang Lampung Selatan dan Bandarlampung — cerita para pemudik menampilkan sisi lain: tentang kebiasaan, cara menghemat biaya, hingga humor yang muncul selama perjalanan panjang.
Di Tugu Siber, para pemudik sering berhenti sebentar, bersantai, mengambil foto, atau hanya sekadar menenangkan diri setelah melakukan perjalanan berjam-jam dari Pulau Jawa ke Sumatra.
Suryadi, seorang pemudik dari Cikarang, Jawa Barat, merupakan salah satu dari ribuan orang yang melakukan perjalanan darat ke Sumatra dengan menggunakan sepeda motor. Pria berusia 43 tahun ini mudik bersama istri dan tiga anaknya menuju Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran.
Namun, perjalanan tersebut tidak dilakukan secara mandiri. "Satu keluarga, dua sepeda motor," katanya saat diwawancarai di Tugu Siger, Kamis (19/03).
Suryadi berangkat sekitar pukul 22.00 WIB dan tiba di Pelabuhan Ciwandan menjelang pagi. Meskipun perjalanan darat cukup lancar, kendala utama yang ia alami justru terjadi saat proses penyeberangan.
Karena antrean yang panjang, menurut Suryadi, dia baru sampai di kampung halamannya pada siang hari.
"Kadang terjadi antrean saat kapal berlabuh. Biasanya 2-2,5 jam, tapi tadi sampai 5 jam," katanya.
Meski demikian, Suryadi mengakui perjalanan yang panjang bukanlah penghalang. Baginya, mudik merupakan tradisi yang "harus dilalui".
"Kembali ke kampung halaman, meskipun perjalanan cukup melelahkan, tetap menjadi tradisi. Bagi saya, yang terpenting adalah bisa pulang ke kampung dan bertemu dengan keluarga di sana," ujar Suryadi.
"Jika tidak pulang kampung, ada yang terasa kurang," katanya.

Cerita yang serupa disampaikan oleh Dedik Triawan, seorang karyawan pabrik di Bekasi, Jawa Barat, yang pulang kampung ke Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus.
Dedik berangkat pukul 01.00 pagi dan tiba di Pelabuhan Ciwandan sekitar pukul 05.00 WIB.
Meskipun perjalanan pulang kampungnya cukup jauh, Dedik sempatkan untuk berhenti di Tugu Siger. Baginya, tempat tersebut bukan hanya sekadar titik lalu lintas.
"Saya mampir ke sini karena ikon Lampung adalah tugu ini. Jadi selama liburan mudik, selalu foto di sini," katanya.
Untuk Dedik, pulang kampung bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga pengalaman batin.
"Meski jauh pergi merantau, saya tetap harus mengingat kampung halaman. Maka mudik harus dilakukan setahun sekali, bahkan berkumpul dengan keluarga juga harus dilakukan. Ya, itu harus penuh sesak," katanya.

Di antara barang yang dibawa Dedik, terdapat kotak yang diikat di belakang motornya. Pada kotak tersebut tertulis tulisan dalam bahasa Jawa.
Tulisan tersebut mengacu pada seseorang yang paling ingin ia temui selama libur lebaran, yaitu ibunya.
Dan karena itu, ia juga tidak pernah melupakan pesan ibunya: jangan terlalu cepat, yang penting sampai tujuan.
"Tidak perlu terburu-buru, jangan mendahului. Kata ibu, tekan saja.begitu tulisan di kotak yang dibawa Dedik.
"Ibu berkata, tidak perlu terburu-buru, jangan mendahului, yang penting sampai ke rumah," katanya.
Mudik ke Madura
Khairul Umam, hari Kamis (19/03), baru saja tiba dari Batu Licin, Kabupaten Tanah Bumbu. Pria berusia 30 tahun ini naik Kapal Motor Egon selama hampir 24 jam untuk kembali ke kampung halamannya di Pamekasan, Jawa Timur.
Turun di Pelabuhan Tanjung Perak, Khairul kemudian harus melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi darat sebelum sampai ke tempat kelahirannya.
Khairul telah 10 tahun tinggal di Batu Licin, namun baru sekali ia tidak pulang saat lebaran, yaitu ketika wabah Covid-19 menyebar.
"Setiap hari raya, biasanya dua kali setahun [termasuk pada Idul Adha], saya kembali ke kampung halaman. Alasannya adalah untuk bertemu dengan orang tua," ujar Khairul.
"Saya kembali ke kampung halaman untuk merenungkan masa lalu saat tinggal bersama orang tua," kata pria yang menjalani usaha jual beli kendaraan di Kalimantan Selatan.

Sekar Tiara merupakan penduduk Madura yang lainnya yang pulang kampung ke Pamekasan. Ia naik kereta dari tempat tinggalnya di Yogyakarta, turun di Surabaya, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Madura.
"Setiap tahun melakukan mudik. Karena saya merupakan anak dari luar kota, maka saya ingin kembali ke rumah untuk merasakan kehangatan hari raya," katanya.
Momen pulang kampung pada hari raya ini sangat penting bagi Sekar. Alasannya, hanya selama periode idul fitri dia mendapatkan cuti dari perusahaan.
"Karena jauh dari rumah, akan terasa sangat kesepian jika tidak kembali. Jika pulang, bisa berjumpa dengan seluruh anggota keluarga—ada rasa hangat," katanya.

Mengabulkan kerinduan yang terakumulasi selama dua tahun
Tiga tahun lamanya menunggu berlalu. Setelah dua kali Idul Fitri hanya dirayakan melalui panggilan video dari kamarnya yang disewa di Semarang, Ihsanul Fikri akhirnya menyeberangi Selat Sunda untuk kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.
Untuk Ihsanul, kembali ke kampung halaman tahun ini bukan hanya sekadar pulang, tetapi juga bentuk pengganti rasa rindu terhadap orang tua.
Kehinduan terhadap rumah yang dulu ia tinggalkan dan suasana lebaran yang selama dua tahun ini hanya bisa ia bayangkan dari kejauhan akhirnya ia rasakan pada lebaran tahun ini.
"Saya pulang kampung menggunakan bus dari Krapyak Semarang ke kampung halaman," ujar Ihsanul, Kamis (19/03).
"Seperti biasanya, naik bus jalur darat dari Semarang menuju Pelabuhan Merak, melewati selat tersebut, turun di Bakauheni lalu melanjutkan perjalanan darat," katanya.

Strategi melakukan perjalanan pulang lebih awal ternyata memberikan hasil. Pada 16 Maret lalu ia tiba di Tanah Datar.
"Saya sampai pada tanggal 16 dengan kondisi jalan masih lancar, setelah itu berita mengatakan jalur Palembang-Padang mengalami kemacetan," katanya. "Alhamdulillah saya pulang lebih awal jadi aman," katanya.
Ihsan memilih perjalanan darat ini karena biaya yang lebih murah dibandingkan dengan membeli tiket pesawat.
"Jika naik pesawat harganya mencapai Rp 2 juta hingga Rp 4 juta per perjalanan, ditambah biaya tambahan lainnya, sehingga saya jarang pulang," kata Ihsanul.
"Kemarin saya mendapatkan tiket dengan harga yang telah meningkat, mungkin karena libur lebaran. Kenaikannya sekitar Rp100 ribu," katanya.
Saat tiba di kampung halaman, Ihsanul segera memenuhi kerinduannya dengan melakukan sungkem kepada orang tuanya.
"Menurut saya, lebaran adalah momen yang penting, karena apapun keadaannya, ini waktu untuk berkumpul dengan keluarga," katanya.
"Dua tahun yang lalu ketika saya dikuasai oleh tugas-tugas kerja. Ini adalah balasan saya untuk mengungkapkan rasa rindu," katanya.

Di Kota Padang, seorang perempuan bernama Sari kembali ke rumahnya pada pertengahan pekan lalu. Ia telah tinggal di Jakarta selama dua tahun. Kembali ke Padang saat lebaran menjadi kesempatan bagi Sari untuk meninjau kembali pengalaman dan kejadian yang ia alami selama berada di tanah rantau.
"Karena sudah cukup kerepotan dengan pekerjaan," katanya.
Bukan hanya untuk dirinya sendiri, Sari mengatakan bahwa mudiknya dilakukan demi orang tua.
Pada lebaran tahun ini, Sari mengikuti program mudik yang disediakan secara gratis. Ia naik bus dengan rute perjalanan Jakarta-Jambi-Palembang-Padang.
Sudah tiba waktunya untuk mengunjungi orang tua. Jika tidak pulang kampung, rasanya sedih," katanya.
Liputan ini dibuat oleh jurnalis BBC News Indonesia, Abraham Utama, bersama para kontributor, yaitu Darul Amri dari Makassar, Ikbal Asra dari Jayapura, Robertus Bejo dari Lampung, Kamal dari Semarang, Halbert Chaniago dari Padang, dan Ahmad Mustopa dari Pamekasan.
Comments
Post a Comment