SUTRADARA Ryan Adriandhy kembali hadir dengan karya yang menggambarkan berbagai warna dunia melalui perspektif anak-anak. Setelah kesuksesannya dalam film animasiJumbo, sekarang giliran Na Willa merupakan film terbaru yang diproduksi bersama Visinema Studios, yang akan membawa penonton kembali mengenang keseruan masa kecil.
Secara umum, film ini akan fokus pada kehidupan sehari-hari dari seorang anak perempuan berusia lima tahun yang penuh imajinasi dan selalu ingin tahu, Na Willa (Luisa Adreena). Ia adalah putri dari Mak (Irma Rihi) dan Pak (Junior Liem) yang bekerja sebagai nelayan.
Petualangan Na Willa terasa semakin mengasyikkan dan penuh dengan keseruan karena ketiga teman dekatnya: Dul (Azamy Syauqi), Bud (Arsenio Rafisqy), dan Farida (Freya Mikhayla). Kelucuan yang disertai sifat spontan mereka akan membawa kegembiraan sepanjang tayangan film.
Detail-detail yang Memicu Nostalgia
Film Na Willayang diadaptasi dari novel karyaReda Gaudiamoberjudul serupa, berlatar Krembangan, Surabaya pada masa 1960-an. Detail-detail yang disajikan mampu membangkitkan kenangan penonton dari kalangan usia tertentu. Baby Boomers hingga Milenial. Pun suasana old school tersebut terbilang masih relate untuk generasi berikutnya karena kesamaan dengan suasana khas rumah kakek di desa yang nyaman dan jugahomey.
Misalnya saja desain rumah, radio tabung, hingga jemuran baju dari tali rami yang dikepang. Ada juga lantai dengan keramik klasik berpola bunga sederhana yang selalu menimbulkan sensasi sejuk saat diinjak. Lantai ini menjadi tempat favorit Na Willa melepas lelah karena kepanasan setelah berjemur di bawah sinar matahari usai pulang bersama Mak dari Pasar Krembangan.
Film Na Willa. Dok. Visinema Studios
Tidak ketinggalan, setiap tokoh dalam filmNa Willa juga dibalut dengan penampilan vintagemelalui penampilan pakaian mereka. Misalnya Willa dengan celana polkadot longgarnya, Mak dengan gaunnya, serta Bud yang selalu memakai celana kotak-kotak monyetnya.
Film ini juga menyajikan berbagai adegan di mana Willa bersama teman-temannya bermain permainan tradisional, seperti kelereng, layang-layang, dan engklek. Selain itu, terdapat mainan "ABRI-ABRI" plastik yang menjadi favorit milik Bud. Kombinasi seluruh elemen "jadul" tersebut semakin menciptakan nuansa klasik yang kental untuk mendukung latar waktu film tersebut.
Penggunaan Musikal dan Animasi
Tampaknya, Ryan Adriandhy tak ingin menjadikan Na Willa sebagai film yang mengisahkan anak-anak biasa saja. Ryan menyisipkan beberapa adegan yang menggabungkan tampilan "teater mini" dengan teknikmise-en-scène, salah satu contohnya ketika Willa membacakan surat yang dikirim oleh Pak. Penggunaan serta penerapan teknik ini terasa menyatu dengan baik dan justru memberikan narasi serta gambaran konteks yang lebih luas.
Film Na Willa. Foto: Instagram/@nawillaofficial
Film ini terasa lebih hidup berkat penggunaan palet warna cerah yang berani dan mampu menciptakan kesan hangat. Hal ini diperkuat oleh animasi sederhana namun berperan penting dalam menyampaikan gambaran mengenai imajinasi "absurd yang meriah" Willa sebagai seorang anak. Dapat dikatakan, pemanfaatan animasi semacam ini memiliki kesamaan dengan penggunaan di film yang dibintangi Zachary Gordon dan Robert Capron saat masih kecil.Harian Seorang Anak Bawang(2010).
Tidak berhenti sampai di situ, tim produksiNa Willa juga memberikan nuansa musikal dalam satu adegan ketika Willa mengunjungi Dul di rumah sakit. Dul, yang kaki kanannya diamputasi setelah terkena kereta api, kini menggunakan kaki palsu dari kayu dan memperlihatkan kepada Willa bahwa kakinya sekarang bisa mengeluarkan suara.
Suara langkah kaki palsu ini kemudian menjadi nada pembuka lagu "Sikilku Iso Muni" karya Laleilmanino yang dinyanyikan oleh Willa dan Dul dengan penuh kegembiraan serta diiringi tarian bersama para staf rumah sakit. Pemilihan momen ini sebagai waktu tampil musikal dalam film memberikan kesan yang berbeda sekaligus perkembangan dari alur cerita dalam novelnya.
Pesan Moral di Film Na Willa
Na Willa Bukan hanya hadir sebagai film keluarga yang hanya menyajikan kegembiraan dan kebahagiaan. Ia juga berubah menjadi wadah yang menyimpan berbagai pesan moral yang bisa diambil oleh siapa saja yang bersedia memahami maknanya secara lebih dalam.
Melalui Willa, misalnya, kejujuran menjadi hal yang sangat penting dalam menjalani hidup, bukan sekadar ajaran atau ucapan kosong. Sifat Willa terasa seperti menyampaikan pesan bahwa terkadang kritik dan hukuman terberat tidak selalu datang dari kata-kata indah. Namun, bisa juga berasal dari ucapan sederhana dan spontan seorang anak kecil.
Film Na Willa. Dok. Visinema Studios
Ibu juga memberikan pemahaman kepada banyak orang tua di luar sana mengenai cara mendidik dan menanamkan nilai-nilai mulia kepada anak-anak. Ibu menjadi contoh tentang kasih yang tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata.
Namun, cinta juga bisa terlihat melalui tindakan kecil dengan memberikan kepercayaan agar anak dapat membuka radio untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Seperti Ibu yang selalu siap menjadi pelindung pertama, mengorbankan dirinya, dan berdiri untuk anaknya jika memang ia tidak bersalah.
Dalam konteks hubungan sosial, filmNa Willa menyampaikan pembelajaran bahwa perbedaan dan keragaman dalam sebuah komunitas tidak seharusnya menjadi penghalang. Willa menjadi contoh yang jelas menunjukkan bahwa dinding perbedaan sebesar apa pun dapat dengan mudah dihancurkan. Hanya diperlukan kejujuran dan niat tulus tanpa prasangka sebagai perekat antara elemen-elemen yang berbeda tersebut.
Kesimpulan dan Penilaian
Pada akhirnya, menonton Na Willa terasa seperti membuka kembali kotak permainan lama yang berdebu namun penuh dengan kenangan indah di dalamnya. Film ini berhasil menyusun potongan-potongan cerita pendek dari novel Reda Gaudiamo menjadi sebuah narasi yang utuh, lancar, dan memiliki jelasnya alur tanpa menghilangkan esensi "keajaiban-kecilnya".
Na Willa film ini berhasil menjadi karya yang hangat, indah secara visual, serta penuh makna. Ia seperti jembatan antar generasi yang rindu untuk merayakan kejujuran, keberanian, dan keindahan dunia ketika masih anak-anak. Setiap tingkah laku Willa terhadap orang-orang di sekitarnya mampu menciptakan kebahagiaan melalui tawa dan membangkitkan air mata haru.
Ryan Adriandhy bersama Visinema Pictures tampaknya menunjukkan bahwa tidak masalah jika sebuah karya visual didasarkan pada cerita yang sederhana. Cukup dengan sentuhan hati dan niat tulus agar mampu menyentuh bagian paling dalam dari jiwa.
CAHYA SAPUTRA
Comments
Post a Comment