
Review & Cara -"Luar biasa! Indonesia luar biasa, mampu menghasilkan film yang canggih." Itulah kesan pertama Inaya setelah keluar dari Studio XXI Duta Mal Banjarmasin setelah menonton film Pelangi di Mars, Rabu (18/3/2026) sore.
Inaya, murid kelas lima SDN Loktabat Selatan 2 Banjarbaru, tidak menyangka ketika diajak ibunya ke bioskop ternyata diperlihatkan film fiksi ilmiah masa depan yang menggabungkan realitas dan animasi seperti film barat.
"Sangat bagus. Saya menyukainya. Tokoh utamanya juga perempuan," kata warga Banjarbaru ini.
Ibu Umi mengungkapkan bahwa dia mengajak putri bungsunya menyaksikan pemutaran perdana yang dilakukan secara bersamaan di Indonesia.
"Anak saya memang senang menonton film. Dan sambil menunggu waktu berbuka puasa, saya merasa sangat cocok jika diajak menonton. Terlebih ini adalah film karya putra bangsa yang dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak untuk berkembang dan berkarya, karena kita juga mampu menciptakan film yang canggih," katanya.
Hal yang sama disampaikan oleh penonton lainnya, Rudi warga Jalan Veteran, Banjarmasin yang menonton bersama rombongan yang terdiri dari tujuh orang, yaitu anak dan ponakan.
"Menjelang Lebaran kita diberikan tontonan keluarga yang kualitasnya sangat memuaskan! Terlebih lagi terdapat nilai edukatif agar manusia menjaga bumi," ujar Rudi.
Film ini menceritakan tahun 2090 ketika Bumi menghadapi krisis air yang disebabkan oleh penguasaan perusahaan Nerotex. Karena tidak layak untuk ditinggali, sekelompok manusia Bumi berangkat ke planet Mars dan mendirikan koloni.
Ternyata terdapat anggota koloni, seorang ibu bernama Pratiwi, yang sedang mengandung lalu melahirkan seorang putri dan menjadi manusia pertama yang lahir di Mars.
Putri bernama Pelangi berkembang menjadi remaja berusia 12 tahun.
Setelah ibu dan anggota koloni pergi dari Mars, Pelangi tinggal bersama kelompok robot.
Kehidupan sehari-hari Pelangi menghabiskan waktu berpetualang di Planet Merah guna menemukan mineral langka bernama Zeolith Omega yang dipercaya mampu membersihkan air di Bumi.
Film produksi Mahakarya Pictures yang disutradarai oleh Upie Guava ini dibintangi oleh Messi Gusti, Lutesha, Myesha Lin, Rio Dewanto, dan Livy Renata, serta didukung oleh suara-suara seperti Kristo Immanuel, Gilang Dirga, Bimo Kusumo, Vanya Rivani, dan Dimitri Arditya.
Film ini menghargai semua pihak yang terlibat, banyak aktor suara dan aktor tubuh yang biasanya jarang mendapat perhatian tetapi disorot di sini.
Film yang menggabungkan teknologi live-action dan animasi/3D dengan penggunaan Extended Reality (XR) berbasis Unreal Engine ini merupakan hasil dari perjalanan kreatif para pembuatnya selama hampir 6 tahun.
Film yang bersejarah menjadi standar baru dalam kemampuan pembuatan film Indonesia melalui penggunaan animasi, CGI, dan VFX.
Hasil dari semangat dan rasa cinta para kreator dalam mengembalikan mimpi anak-anak Indonesia. Luar biasanya, film ini dibuat oleh ratusan orang dari berbagai penjuru Indonesia, termasuk animator, vfx artist, dan lainnya.(ulasan dan cara -/salmah saurin)
Foto salmah saurin
1. Rudi bersama anak dan keponakannya setelah menonton film Pelangi Di Mars di Studio 5 XXI Duta Mal Banjarmasin
2.Anak-anak yang sedang menonton film Pelangi Di Mars di Studio 5 XXI Duta Mal Banjarmasin
Comments
Post a Comment