
Ringkasan Berita:
- setelah bulan Ramadan, umat Islam tidak diperintahkan untuk menghentikan pengumpulan kebaikan, termasuk di bulan berikutnya yaitu Syawal.
- Syawal adalah bulan yang penuh berkah, penuh kesetiaan dan merupakan awal pelaksanaan ibadah haji.
- Waktu itu ditetapkan bagi mereka yang tidak sedang menjalankan ibadah haji, agar ikut memperoleh pahala dengan berpuasa sekitar 6 hari.
Review & Cara -- Perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 H masih berlangsung hingga hari ini, Senin (23/3/2026).
Selanjutnya, setelah bulan Ramadan, umat Islam tidak diperintahkan untuk menghentikan pengumpulan kebajikan.
Termasuk dalam bulan setelah Ramadhan yaitu Syawal.
Karena terdapat beberapa ibadah sunnah lain yang dianjurkan dilakukan setelah bulan Ramadan berakhir, salah satunya adalah Puasa Syawal.
Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad pernah berkata:
"Siapa saja yang berpuasa Ramadhan lalu berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapatkan pahala puasa selama satu tahun penuh." (HR Muslim).
Disebutkan pula oleh Thawban bahwa Nabi SAW berkata, yang maksudnya:
"Puasa Ramadhan setara dengan berpuasa selama sepuluh bulan. Berpuasa enam hari di bulan Syawal sama dengan berpuasa dua bulan. Kehadiran ini seperti berpuasa sepanjang tahun." (Sahih Ibn Khuzaymah (2115) dan Sunan al-Nasa’i al-Kubra (2860)).
Syawal adalah bulan yang penuh berkah, penuh kesetiaan dan awal pelaksanaan ibadah haji.
Waktu itu disarankan bagi mereka yang tidak sedang menjalani ibadah haji untuk mengambil pahala dengan berpuasa selama sekitar 6 hari.
Hukum puasa Syawal selama enam hari bukanlah wajib, namun memiliki keistimewaan yang besar serta pahala yang melimpah.
Keistimewaan lain dari puasa Syawal adalah dilakukan setelah melaksanakan puasa qadha Ramadan.
Bagi umat Islam yang masih memiliki hutang puasa, sebaiknya melunasinya terlebih dahulu sebelum melakukan puasa Syawal.
Hal tersebut menunjukkan bahwa puasa Ramadan perlu diperbaiki terlebih dahulu, baru kemudian dapat melaksanakan puasa Syawal.
Berdasarkan pendapat para ulama, puasa Syawal tidak dapat dilaksanakan sebelum puasa Ramadhan selesai dilengkapi.
Namun di sisi lain, selama bulan Ramadhan berlangsung, tidak dapat dipungkiri beberapa kalangan umat Muslim ada yang tidak mampu menjalani sebulan penuh, dengan alasan yang beragam namun masih termasuk dalam kategori syar'i.
Terutama perempuan muslim yang mengalami menstruasi setiap bulan, termasuk di bulan Puasa, serta kelompok lainnya.
Lalu bagaimana hukumnya jika sudah memasuki bulan Syawal dan ingin melaksanakan puasa Syawal, namun masih memiliki hutang puasa?
Hukum berpuasa Syawal meskipun masih memiliki hutang puasa
Dalam kitab Syarah Al-Lu'lu Wa Al-Marjan (kumpulan hadits shahih Bukhari dan Muslim) disebutkan bahwa puasa Syawal tidak boleh dilakukan sebelum menyelesaikan puasa yang tertunda, dan acuan utamanya adalah menyelesaikan puasa Ramadan terlebih dahulu sebelum berpuasa enam hari di bulan Syawal.
Hal ini disebabkan oleh seseorang yang wajib mengganti puasa Ramadan, maka sebaiknya segera melakukan puasa qadha.
Umat Muslim sebaiknya lebih dahulu menunaikan puasa qadha yang merupakan kewajiban.
Pentingnya menjalankan kewajiban agama dalam Islam tidak dapat dipandang remeh. Jika seorang Muslim lebih memilih berpuasa Syawal daripada puasa qadha Ramadan, maka hal ini setara dengan mengutamakan yang sunah dibandingkan yang wajib.
Mengutamakan kewajiban (fardhu) lebih utama dibandingkan melakukan ibadah sunnah, karena kewajiban merupakan perintah langsung dari Allah SWT.
Puasa Ramadhan merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap umat Islam yang mampu menjalankannya.
Jika seseorang memiliki puasa Ramadan yang belum diperbaiki (qadha), maka lebih utama baginya untuk segera menjalankan puasa qadha tersebut sebelum melakukan puasa sunnah, seperti puasa Syawal.
Seorang Muslim yang lebih memprioritaskan puasa sunnah Syawal tidak mendapatkan keistimewaan puasa Syawal. Seperti yang disampaikan dalam hadis Nabi, agar mendapatkan keutamaan setara dengan satu tahun penuh, seseorang harus menyelesaikan puasa Ramadan secara sempurna, kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal.
Namun, masih terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai hal ini. Beberapa di antaranya memperbolehkan menunda puasa qadha dan lebih dahulu menjalankan puasa Syawal. Ulama yang menyampaikan pandangan ini mendasarkan pendapatnya dengan hadits Aisyah RA berikut,
Saya memiliki kewajiban puasa di bulan Ramadan, tetapi saya tidak mampu menyelesaikannya kecuali di bulan Syaban.
Maknanya: "Dulu aku memiliki kewajiban berpuasa Ramadan dan aku tidak mampu membayar hutang puasa itu kecuali pada bulan Syakban." (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)
Kapan Waktu yang Tepat untuk Melakukan Puasa Syawal
Melaksanakan puasa sunnah Syawal boleh dilakukan secara berurutan maupun terpisah. Berdasarkan pendapat Imam Syafi'i dan Imam Hanbali, lebih dianjurkan melakukannya secara berurutan. Namun menurut Imam Maliki dan Imam Hanafi, pelaksanaan puasa ini disarankan dilakukan tidak berurutan atau dua hari setiap satu minggu.
Puasa sunnah bisa dilakukan setelah perayaan Hari Raya Idul Fitri, yaitu pada tanggal 2 Syawal. Mengapa bukan tanggal 1 Syawal? Karena tanggal tersebut merupakan hari raya yang diharamkan untuk berpuasa.
Lalu, kapan batas akhir puasa Syawal?
Sesuai dengan batas waktu yang berakhir pada akhir bulan Syawal, yaitu tanggal 30. Umat Islam memiliki kesempatan selama sebulan untuk memilih hari tertentu atau menggabungkannya dengan puasa Senin-Kamis, ayyamul bidh, hingga puasa Daud.
Niat Puasa Syawal
Membaca niat puasa Syawal tidak berbeda dengan niat puasa biasa, yaitu dilakukan mulai malam hari hingga terbitnya fajar.
Namun, terdapat kelonggaran untuk menyampaikan niat pada siang hari jika lupa. Berikut ini teks niatnya:
1. Niat Berpuasa Syawal di Malam Hari
Saya berniat berpuasa besok untuk menunaikan sunnah Syawal kepada Allah Ta'ala.
Arab Latin: Aku berniat berpuasa besok untuk menunaikan sunnah Syawal karena Allah Yang Maha Tinggi.
Maknanya: "Aku bermaksud berpuasa sunnah Syawal besok hari karena Allah SWT,"
2. Bacaan Niat Puasa Syawal Pada Waktu Pagi
Saya berniat berpuasa hari ini untuk melaksanakan sunnah Syawal atas nama Allah Ta'ala.
Arab Latin: Aku berniat puasa hari ini karena menjalankan sunnah Syawal kepada Allah Yang Maha Tinggi.
Maknanya: "Aku bermaksud berpuasa sunnah Syawal hari ini karena Allah SWT,"
Pahala Berpuasa Enam Hari di Bulan Syawal
Bagi umat Islam yang berpuasa selama enam hari di bulan Syawal akan memperoleh pahala seperti berpuasa selama satu tahun, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis shahih berikut ini:
"Siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadan kemudian mengiringinya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti telah berpuasa selama satu tahun," (HR. Muslim).
Siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadan, maka puasa selama sebulan itu setara dengan berpuasa sepuluh bulan, dan puasa enam hari setelah Idul Fitri setara dengan berpuasa dua bulan. Dengan demikian, hal ini sama dengan berpuasa selama satu tahun," (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah).
Keutamaan Puasa Syawal
Berikut penjelasan tentang keutamaan puasa Syawal yang dikutip dari buku Faedah-faedah Seputar Puasa Syawal karya Muhammad Shalil Al-Munajjid, detikHikmah, dan NU Online.
1. Membiasakan Diri dengan Puasa
Berdasarkan penjelasan dari situs NU Online, menjalankan puasa Syawal merupakan salah satu cara untuk membiasakan diri tetap berpuasa setelah bulan Ramadan selesai.
Sesungguhnya Allah SWT menerima perbuatan baik seseorang dan akan memberikan kepadanya kemampuan untuk terus melakukan kebaikan berikutnya.
Beberapa ulama berpendapat bahwa pahala dari perbuatan baik adalah perbuatan baik yang datang setelahnya.
Maka siapa pun yang melakukan kebaikan lalu diikuti dengan tindakan baik lainnya, maka hal tersebut merupakan tanda bahwa kebaikan pertama diterima.
Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan tindakan baik lalu diikuti dengan tindakan buruk, maka hal ini menunjukkan bahwa kebaikan tersebut ditolak.
2. Tanda Rasa Terima Kasih Kepada Tuhan
Salah satu keistimewaan berpuasa pada bulan Syawal adalah sebagai bentuk rasa terima kasih kepada Allah SWT karena telah mampu melewati bulan Ramadan. Berharap setelah selesainya Ramadan, dapat memperoleh karunia dan rahmat yang banyak.
3. Ibadah yang Dilakukan Selama Bulan Ramadan Tidak Pernah Terhenti
Berakhirnya bulan Ramadan bukan berarti aktivitas ibadah yang dilakukan berhenti.
Ini menjadi dorongan untuk berusaha menjaga kualitas dan jumlah ibadah pada bulan berikutnya.
Puasa Syawal merupakan salah satu cara untuk mempertahankan perbuatan ibadah yang telah dilakukan selama bulan Ramadan.
Dari Abu Ayyub Al-Anshari, radhiyallahu anhu, bahwa ia menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda: "Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun."
Maknanya: "Abu Ayyub al-Ansari (semoga Allah SWT meridhai) menyampaikan bahwa Nabi SAW bersabda, 'Orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dan dilanjutkan dengan enam hari puasa pada bulan Syawal akan mendapatkan pahala seperti berpuasa sepanjang tahun.' (HR Muslim)."
4. Penyempurna Ibadah Wajib
Alasan puasa Syawal dianjurkan adalah untuk melengkapi kekurangan dalam menjalankan ibadah wajib seperti puasa Ramadan. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis berikut ini:
Sesungguhnya amal yang pertama kali dihitung dari seorang hamba adalah sholatnya. Jika sholatnya sempurna, maka dia telah berhasil dan sukses. Sebaliknya, jika sholatnya rusak, maka dia akan binasa dan merugi. Setelah itu, jika terdapat kekurangan dalam sholat wajib, Allah berfirman kepada malaikat: perhatikan apakah hambaku melakukan sholat sunnah? Jika ia melaksanakan sholat sunnah, kekurangan pada sholat wajib akan diperbaiki dengan sholat sunnah tersebut. Selanjutnya, semua amalan lainnya akan dihisab dengan cara yang sama," (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi). (*)
Baca artikel Ulasan & Cara Lainnya di Google News
Comments
Post a Comment