Ulasan dan Cara, SEMARANG –Yuliansyah Aryawan berada di tengah bangunan-bangunan kuno Kota Lama.
Bukan hanya sebagai pandu, tetapi ia merupakan sosok yang menjaga lembaran kisah masa lalu wilayah pesisir yang dikembangkan oleh Belanda sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan pelabuhan.
Di tangannya, sejarah tidak lagi kaku dalam buku, tetapi mengalir melalui langkah kaki, suara, dan kenangan yang ia bagikan kepada orang-orang yang datang.
Ia kini berperan sebagai mentor sekaligus aktivis dalam Komunitas Walking Tour (WTC) Semarang. Wilayah Kota Lama Semarang yang saat ini telah indah dengan berbagai cerita sejarah dan masih bisa dinikmati hingga saat ini, memerlukan proses yang panjang.
Bukti sejarah perlu dikumpulkan terlebih dahulu sebelum disusun menjadi narasi yang disampaikan secara akurat dan menarik. Dimulai dari pelatihan singkat selama tiga hari yang diadakan Dinas Pariwisata Kota Semarang pada awal 2022, Aryawan melihat sesuatu yang lebih dari sekadar kegiatan formal.
"Menyesal jika hanya berhenti pada kegiatan pelatihan. Akhirnya dilanjutkan menjadi sebuah komunitas," katanya.
Dari sana, kelompok yang awalnya dikenal sebagai Komunitas Pemandu Budaya terbentuk.
Namun nama tersebut tidak bertahan lama. Munculnya kritik karena tidak semua anggotanya adalah pemandu yang memiliki sertifikat. Setelah melalui pembahasan, nama Walking Tour Community secara resmi digunakan sejak tahun 2023 hingga saat ini.
Sebelum menetap dan berkembang di Semarang, Aryawan lebih dahulu mengenal wisata Kota Tua di Jakarta.
Kira-kira tahun 2010, ia mulai secara teratur mengunjungi kawasan Kota Tua yang awalnya dimulai dari sesuatu yang sederhana. Ia diajak oleh teman dekatnya yang memiliki latar belakang sejarah.
Dari beberapa kunjungan yang santai, ia mulai memahami komunitas tersebut, hingga akhirnya menjadi anggota Yayasan Kota Tua Jakarta pada tahun 2013–2014.
Pengalaman itu menjadi bekal yang sangat berharga ketika pada tahun 2016, ia ditunjuk untuk membantu pengembangan kawasan Kota Lama Semarang yang saat itu sedang disiapkan sebagai bagian dari usulan warisan dunia UNESCO.
"Pada saat itu Semarang membutuhkan seseorang untuk membantu persiapan, akhirnya saya ikut datang ke sini," katanya.
Bagi Aryawan, tur jalan kaki bukan hanya sekadar kegiatan berjalan keliling kota. Ia melihat adanya perubahan dalam cara menikmati ruang.
Dulunya, orang datang ke Kota Lama hanya untuk berfoto dan berjalan-jalan, tetapi sekarang mereka mulai mencari kisah di balik bangunan tersebut.
Melalui kelompok yang ia bimbing, pengalaman tersebut menjadi lebih luas.
Peserta tidak hanya diajak untuk melihat dari luar, tetapi juga diperbolehkan memasuki beberapa bangunan di kawasan Kota Lama, sesuatu yang biasanya tidak dapat diakses oleh pengunjung umum.
"Di sanalah letak keunggulannya. Mereka dapat merasakan langsung ruangnya, bukan hanya melihat dari luar," katanya.
Salah satu kendala terbesar yang dia alami adalah masalah kepercayaan diri. Banyak orang sebenarnya tertarik untuk bergabung dengan Walkig Tour Comunity, namun ragu untuk berbicara dan menyampaikan kisah mereka.
Aryawan mengatakan, sebelum adanya komunitas ini, sebagian besar orang hanya datang dan pergi tanpa benar-benar memahami tempat yang dikunjungi.
Sekarang, keadaannya mulai berbeda. Anggota komunitas didorong untuk belajar, memahami materi, dan berani menyampaikan pendapat.
"Jika mereka sudah memiliki ilmu, maka mereka menjadi lebih percaya diri," katanya.
Banyak dari mereka yang awalnya belajar bersama, kini sudah mampu memimpin kelompok sendiri tanpa perlu bimbingan orang lain.
Buka Kesempatan Karier yang Menghasilkan Keuntungan
Dengan meningkatnya ketertarikan pada wisata berbasis pengalaman, walking tour perlahan menjadi peluang kerja yang menjanjikan dalam hal keuntungan.
Harga tiket untuk satu perjalanan berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu bagi pengunjung lokal, sedangkan untuk pengunjung asing lebih mahal.
Beberapa tahun terakhir, wilayah Kota Lama semakin diminati oleh para pengunjung asing, termasuk yang berasal dari Eropa dan Amerika, khususnya melalui kapal pesiar.
Situasi ini memberi kesempatan kepada para pandu untuk berkembang, baik dalam hal pengalaman maupun pendapatan.
Tur Jalan-Jalan Komunitas di Semarang kini terdiri dari berbagai latar belakang. Bukan hanya pemandu wisata profesional, tetapi juga mahasiswa, jurnalis, pekerja kreatif, hingga warga dari desa wisata.
Jangkauan usia anggota sangat beragam, mulai dari mahasiswa hingga mendekati usia 60 tahun.
"Siapa saja dapat belajar menjadi pemandu wisata yang ahli, selama mereka memiliki keinginan," kata Aryawan.
Komunitas ini juga giat bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk media dan kalangan akademik, serta menjadi tempat pertukaran pengalaman bersama komunitas sejenis dari kota lain.
Bagi Aryawan, tantangan berikutnya tidak hanya terkait dengan jumlah pengunjung, tetapi juga bagaimana mempertahankan kualitas materi yang disampaikan.
Ia memperhatikan, perkembangan wilayah Kota Tua di berbagai daerah, termasuk Semarang, sering kali terjadi bersamaan dengan kepentingan yang beragam, termasuk politik dan pembangunan.
Namun di tengahnya, ia memutuskan untuk fokus pada satu hal, yaitu sumber daya manusia dan kisahnya. Tur jalan kaki, bagi dirinya, merupakan cara sederhana untuk menjaga kenangan kota tetap segar.
"Para pengunjung yang datang, mereka tidak hanya ingin melihat bangunan. Mereka juga ingin mengetahui kisah dan sejarah yang terkandung dalam bangunan tersebut," tambahnya.(Rezanda Akbar)
Comments
Post a Comment